Hai semua kali ini di blog saya yang super pecah ini akan membeberkan cerita inspirasi dan motivasi dari seorang anak kampung yang berhasil menjadi pramugara, bagaimana ceritanya ssilahkan dibaca ^_^
Saya Doni. 24 tahun.
Saya dari kampung. Yah, kampung.. Ada diantara kalian yang tahu dimana letak
Sumbawa Besar? Sebagian besar orang mengira kota kecil itu letaknya di sekitar
Nusa Tenggara Timur atau malah di Maluku. In fact, Sumbawa Besar itu adalah kota
kecil di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sekitar enam jam berkendara dari
Mataram, Lombok.
Marilah beranjak ke
masa remaja saya. Saya bukan berasal dari keluarga bahagia dan berkecukupan tapi
sejak kecil saya adalah seorang pemimpi. Saya selalu bermimpi untuk pergi jauh
dan melihat dunia. Saya memulai perantauan saat berumur 15 tahun, sejak bangku
SMA. Saya menghabiskan masa SMA dan kuliah saya di Makassar. Dan saya masih
belum pernah naik pesawat, sampai kelas 2 SMA. Pengalaman itu tak terlupakan.
Makassar – Surabaya, Bouraq Airlines, Boeing 737-200. Maskapai bernuansa hijau
menyajikan sekotak roti, yang disajikan oleh awak kabin yang bertugas. Saya
langsung jatuh cinta pada pekerjaan tersebut. Ada dua alasan. Satu, karena
bekerja “naik pesawat”. Dua, pekerjaan yang sangat elegan, menurut saya, orang
yang baru pertama kali naik pesawat pada saat itu.
Keuangan keluarga
yang tidak memadai membuat saya harus bekerja setelah lulus SMA untuk membiayai
kuliah saya sendiri. Saya bekerja sebagai pramuniaga di toko retail alat-alat
olahraga bernama Planet Sports di Makassar sebagai pramuniaga. Waktu berjalan,
and everything was fine. Hanya saja mimpi itu, mimpi melihat dunia
masih bergejolak.
Bermodal nekat,
akhirnya saya menginjakkan kaki di ibukota Jakarta. Saya menumpang di seorang
kerabat jauh dan bekerja serabutan. Menjadi pramuniaga tambahan di Giordano
adalah pilihan saya. Bukan pilihan, hanya pekerjaan itulah yang bisa saya dapat.
Mungkin salah satu dari kalian pernah saya layani atau mendengar saya berteriak
“Silahkan kakak, lihat-lihat dulu” di Mall Kelapa Gading, Mall Pondok Indah,
atau di Plaza Semanggi. Tenaga saya hanya digunakan pada saat Bazaar atau Sale,
jadi pendapatan saya perbulan hanya sekitar Rp 700.000.
Setelah
luntang-lantung, akhirnya saya mendapat pekerjaan di Hotel Indonesia Kempinski
sebagai Bellman. Berbekal kuliah di bidang perhotelan saya mendapatkan pekerjaan
tersebut. Hidup saya mulai berubah. Bisa dibilang mulai sedikit layak. Setelah 2
tahun bekerja di Hotel Indonesia Kempinski, saya pindah ke Mandarin Oriental
Hotel Jakarta dan bekerja disana selama 1,5 tahun.
Doni-Cathay Pacific Flight Attendant From Indonesia
Dari Pramuniaga Menjadi Peamugara
Ketertarikan saya
terhadap pesawat, mimpi melihat dunia dan keeleganan seorang flight
attendant membawa saya untuk mencoba peruntungan di dunia penerbangan.
Maskapai yang menerima pramugara bisa dihitung dengan jari, membuat hal ini
benar-benar tidak mudah. Ditambah lagi dengan mata saya yang mengidap rabun jauh
(minus) yang membuat saya mustahil diterima oleh maskapai domestik.
Saya pernah
mencoba Cathay Pacific (2008),Qatar Airways, Emirates, dan Air Asia. Semua
gagal. Di salah satu interview saya benar-benar kecewa karena
pewawancaranya waktu itu benar-benar demoralized dan saya gugur karena saya
mempunyai sedikit bekas jerawat.
"I was like, “I’m here to be a Flight Attendant
not a freakin’ model!”
Mungkin
Tuhan punya rencana sendiri. Setelah saya gagal tahun 2008 di Cathay
Pacific (bahkan application saya tidak mendapat invitation untuk interview) saya
mencoba kembali tahun 2011. Setelah proses panjang dan
breathtaking saya di terima dan resmi menjadi Indonesian Flight
Attendant with Cathay Pacific Airways. Pada saat itu hanya 92 dari
kurang lebih 5000 orang applicant yang diterima. I can’t believe myself
in.
Ini
benar-benar anugrah terbesar dalam hidup saya. Saya belum pernah keluar
negeri sebelumnya. Saya bahkan tidak punya paspor! Paspor hanya saya buat untuk
keperluan pra-syarat interview di Cathay Pacific. It’s a total breakthrough
in my life. Kami harus pindah ke Hong Kong karena kami akan ditempatkan di
kota ini. Semua fasilitas yang diberikan benar-benar melebihi apa yang saya
bayangkan. Saya tidak bisa berhenti bersyukur.
Sebelum terbang,
kami, para new flight attendant harus menjalani masa induction
training untuk safety and service selama kurang lebih 2 bulan.
Awal yang berat bagi saya karena saya sangat merasa rendah diri. Bagaimana
tidak, hampir semua teman saya yang lain adalah lulusan luar negeri, pernah
tinggal diluar negeri atau ex-crew dari Singapore Airlines, Korean Air,
Etihad dan Emirates, sedangkan saya hanya anak kampung yang baru menginjakkan
kaki di luar negeri. Kepercayaan diri saya benar-benar jatuh pada saat itu, tapi
seiring jalannya waktu dan dukungan teman-teman, saya bisa mengatasi masalah
tersebut. Saya mulai percaya kalau diri saya pantas berada disini.
Tugas terbang
pertama saya adalah CX 725, Hong Kong – Kuala Lumpur tanggal 4 September 2011.
Saya tidak pernah akan melupakan ketika pertama kali saya menyambut penumpang,
tersenyum dan berkata “Welcome onboard sir. May I show you your seat?”
Doni in Heidelberg,
Germany
Spread my wings and fly! Well, It is not
easy
Sekarang, setelah 7
bulan saya menjadi pramugara hidup saya benar-benar berubah. Saya mengunjungi
kota-kota yang dulu hanya menjadi mimpi bagi saya. Well, you name it.
Dari London sampai New York, dari Tokyo sampai New Delhi. Saya bisa sarapan di
Dubai, makan siang di Hong Kong dan makan malam di Surabaya di hotel bintang
lima sebagai fasilitas yang diberikan kepada kami.
Dibalik semua
kemewahan itu, pekerjaan ini tidaklah mudah. It’s hard, I’m telling
you..
Kita mulai dari
perbedaan budaya. Karena pramugari/a di Cathay Pacific dari berbagai macam
bangsa, kadang-kadang saya menemukan kendala dalam dalam bersikap dan
berkomunikasi. Kita harus bisa mengerti dan mempelajari adat dan sikap bangsa
lain. Selain itu saya bekerja dengan orang yang berbeda setiap harinya. Cathay
Pacific mempunyai kurang lebih hampir 9000 pramugari/a yang terbagi menjadi Hong
Kong based, Singapore based, Bangkok base, Vancouver based, Toronto based,
London Based, Los Angeles based dan San Francisco based. Tidak mudah untuk
menyesuaikan diri tiap harinya karena saya selalu bekerja dengan orang dan tim
yang berbeda. Perkenalan dimulai di ruang briefing sebelum terbang sambil
berkata “ Hi, I am Doni from Indonesia” sampai tugas terbang berakhir.
Setelah itu, mungkin saya tidak akan pernah melihatnya lagi.
Jetlag.
Salah satu musuh terbesar kami, para pramugari/a. bayangkan saja saya terbang ke
New York, menempuh waktu 16 jam terbang dan kota itu mempunyai waktu berbeda 12
jam dengan Hong Kong. Setelah tiga hari di New York saya harus kembali ke Hong
Kong dan mengikuti waktu lokal. Pola tidur saya tidak pernah teratur. Tidur
malam hari dan siang hari rasanya sama saja. Daya tahan tubuh akan menurun
secara drastis bila kita tidak mengkonsumsi multivitamin dan rajin
berolahraga.
Kehidupan sosial
yang sangat minim. Karena siklus hidup yang berbeda dari orang pada umumnya,
saya hanya punya sedikit waktu untuk bersosialisasi, bahkan dengan teman sesama
profesi karena jadwal terbang yang berbeda. Internet merupakan sarana terbaik
untuk berkomunikasi dan bersosialisasi. Jadi dari semua
keglamouran itu, ada harga yang harus dibayar. Kalau kita merasa cocok dan bisa
mengatasi hal tersebut, setiap hari akan terasa seperti liburan. Tapi apabila
tidak, ini akan menjadi hal yang sangat berat "Me? I love my job and everyday is holiday! See you
onboard!"
Doni with the other Indonesian flight attendants
NB : Bagi kalian yang selalu gagal menjadi FA jangan menjadikan kalian menyerah tetapi jadikanlah sebuah pengalaman dan intropeksi diri karena tuhan itu punya rencana yang manusia tidak ketahui.
source : forumpramugari.com
Categories:
Story



